![]() |
| Foto: Mengenal istilah Escapism dalam hidup |
Newsartstory.com — Dalam beberapa tahun terakhir, istilah “healing” semakin populer, terutama di kalangan anak muda. Banyak orang merasa ingin pergi ke pantai, gunung, atau tempat tenang saat merasa lelah secara mental.
Namun, terdapat hal lainnya selain kata "healing". Fenomena serupa yang sering dikaitkan dengan konsep tersebut yakni Escapism.Lalu, apa sebenarnya escapism? Apakah ini hal yang baik atau justru berbahaya?
Pengertian Escapism dalam Psikologi
Escapism adalah kecenderungan seseorang untuk “melarikan diri” dari kenyataan, terutama saat menghadapi tekanan, stres, atau masalah hidup. Bentuknya bisa bermacam-macam, mulai dari traveling, menonton, bermain game, hingga menyendiri di tempat tertentu.Dalam konteks “healing”, escapism biasanya muncul ketika seseorang ingin:
- Menjauh dari rutinitas yang melelahkan
- Menghindari masalah yang belum terselesaikan
- Mencari ketenangan emosional secara instan
Jenis Escapism: Sehat vs Tidak Sehat
1. Escapism yang Sehat
Escapism bisa menjadi hal yang positif jika dilakukan dengan tujuan untuk memulihkan diri.Ciri-cirinya:
- Pergi untuk menenangkan pikiran (refreshing)
- Memberi waktu untuk istirahat mental
- Kembali menghadapi masalah dengan kondisi lebih baik
👉 Ini termasuk coping mechanism yang sehat.
Contoh: Seseorang yang terus-menerus pergi atau mencari distraksi agar tidak perlu menghadapi masalah hidupnya.
2. Escapism yang Tidak Sehat
Escapism menjadi masalah ketika digunakan sebagai cara untuk terus menghindari realita.Ciri-cirinya:
- Terus ingin “kabur” dari kehidupan sehari-hari
- Menunda tanggung jawab
- Tidak pernah menyelesaikan masalah utama
- Merasa dunia nyata selalu terlalu berat
Contoh: Seseorang yang terus-menerus pergi atau mencari distraksi agar tidak perlu menghadapi masalah hidupnya.
👉 Ini bisa berdampak buruk dalam jangka panjang.
Setiap orang membutuhkan waktu untuk beristirahat dan memulihkan kondisi mental. Pergi ke tempat yang tenang bisa membantu:
Dengan memahami hal ini, kamu bisa tetap menjaga kesehatan mental tanpa terjebak dalam pola pelarian yang merugikan. Apa kamu tengah mengalami di fase ini? Di tengah situasi atau keadaan yang cukup rumit sekaligus tertekan.
Mengapa Seseorang Mengalami Escapism?
Ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang cenderung melakukan escapism:- Stres berlebihan dari pekerjaan atau kehidupan pribadi
- Burnout (kelelahan mental dan emosional)
- Tekanan sosial atau ekspektasi tinggi
- Masalah pribadi yang belum terselesaikan
Apakah Keinginan “Healing” Itu Wajar?
Jawabannya: ya, sangat wajar.Setiap orang membutuhkan waktu untuk beristirahat dan memulihkan kondisi mental. Pergi ke tempat yang tenang bisa membantu:
- Menurunkan stres
- Menjernihkan pikiran
- Meningkatkan suasana hati
Cara Mengelola Escapism agar Tetap Sehat
Agar escapism tetap menjadi hal positif, kamu bisa melakukan beberapa hal berikut:- Sadari tujuan kamu pergi Apakah untuk recharge atau menghindari masalah?
- Batasi durasi “melarikan diri” Jangan sampai terlalu lama hingga mengabaikan tanggung jawab.
- Gunakan waktu untuk refleksi Manfaatkan momen healing untuk berpikir lebih jernih.
- Hadapi masalah secara bertahap Setelah merasa lebih baik, mulai selesaikan masalah satu per satu.
Kesimpulan
Escapism adalah respon psikologis yang normal ketika seseorang merasa tertekan. Keinginan untuk “healing” atau pergi ke tempat tertentu bukanlah hal yang salah. Namun, penting untuk membedakannya adalah Escapism sehat yakni untuk pemulihan diri. Sedangkan Escapism tidak sehat untuk menghindari realita.Dengan memahami hal ini, kamu bisa tetap menjaga kesehatan mental tanpa terjebak dalam pola pelarian yang merugikan. Apa kamu tengah mengalami di fase ini? Di tengah situasi atau keadaan yang cukup rumit sekaligus tertekan.

0 Komentar