Distimia (Depresi Persisten): Pengertian, Gejala, dan Cara Mengatasinya Menurut Psikolog

distimia
Foto: Mengenal seputar Distimia pada seseorang

Newsartstory.com - Distimia atau Persistent Depressive Disorder yakni salah satu jenis depresi yang sering tidak disadari karena gejalanya cenderung ringan, tetapi berlangsung dalam waktu yang sangat lama.

Banyak orang mengira kondisi ini hanyalah sifat pribadi atau kelelahan mental biasa, padahal distimia termasuk gangguan psikologis yang perlu ditangani secara profesional.

Apa Itu Distimia?

Menurut psikolog, distimia adalah depresi kronis yang ditandai dengan perasaan sedih, murung, atau hampa hampir setiap hari dalam jangka panjang. Pada orang dewasa, distimia berlangsung minimal dua tahun, sedangkan pada anak dan remaja minimal satu tahun.

Berbeda dengan depresi mayor yang gejalanya berat dan muncul dalam episode tertentu, distimia berkembang secara perlahan dan menetap. Karena itulah banyak penderitanya tetap beraktivitas seperti biasa, namun merasa hidup terasa berat dan melelahkan secara emosional.

Gejala Distimia

Gejala distimia umumnya tidak terlalu ekstrem, tetapi terus-menerus dirasakan. Beberapa tanda yang sering muncul antara lain perasaan sedih berkepanjangan, energi yang rendah, mudah lelah, serta hilangnya semangat hidup. Penderita juga kerap merasa tidak berharga, kurang percaya diri, dan pesimis terhadap masa depan.
Selain itu, distimia dapat disertai gangguan tidur seperti insomnia atau tidur berlebihan, perubahan nafsu makan, serta kesulitan berkonsentrasi. Banyak orang dengan distimia merasa bahwa kondisi tersebut sudah menjadi bagian dari dirinya sejak lama.

Penyebab Distimia

Psikolog menjelaskan bahwa distimia biasanya disebabkan oleh kombinasi beberapa faktor. Faktor biologis seperti ketidakseimbangan zat kimia otak dapat berperan, begitu pula faktor psikologis seperti pola pikir negatif yang berlangsung lama.

Pengalaman trauma emosional, stres berkepanjangan dalam keluarga atau pekerjaan, serta kurangnya dukungan sosial juga dapat meningkatkan risiko terjadinya distimia.

Distimia Bukan Sekadar Sedih Biasa

Penting untuk dipahami bahwa distimia berbeda dari kesedihan normal atau stres sementara. Pada distimia, perasaan sedih bersifat menetap dan memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri, orang lain, dan masa depan. Dalam beberapa kasus, distimia dapat berkembang menjadi depresi mayor jika tidak ditangani dengan baik.

Cara Mengatasi Distimia Menurut Psikolog

Distimia dapat ditangani dengan pendekatan yang tepat. Terapi psikologis seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT) sering digunakan untuk membantu penderita mengenali dan mengubah pola pikir negatif.

Dalam kondisi tertentu, psikiater dapat meresepkan obat antidepresan untuk membantu menyeimbangkan kondisi kimia otak. Selain itu, perubahan gaya hidup juga sangat berperan, seperti menjaga pola tidur, rutin berolahraga, dan membangun rutinitas harian yang sehat.

Dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar juga menjadi faktor penting dalam proses pemulihan.

Kapan Harus Mencari Bantuan Profesional?

Jika perasaan sedih atau hampa sudah berlangsung bertahun-tahun, mengganggu hubungan sosial, pekerjaan, atau kualitas hidup secara keseluruhan, maka sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater. Distimia bukan tanda kelemahan, melainkan kondisi kesehatan mental yang bisa ditangani.

Kesimpulan

Distimia adalah depresi jangka panjang yang sering tidak disadari karena gejalanya tampak ringan. Namun, dampaknya terhadap kualitas hidup sangat besar jika dibiarkan. Dengan penanganan yang tepat dan dukungan yang konsisten, penderita distimia dapat menjalani hidup yang lebih sehat dan bermakna. Tentunya harus tetap berpikir positif dengan baik.


Lihat Selengkapnya
Google News

0 Komentar

Seedbacklink