![]() |
| Foto: Mengenal seputar workaholism dari seseorang |
Newsartstory.com — Di tengah budaya yang mengagungkan produktivitas, bekerja keras sering dianggap sebagai salah satu kunci menuju kesuksesan. Memiliki target karir tinggi, mengejar penghasilan lebih besar, dan berusaha meningkatkan kualitas hidup tentu bukan sesuatu yang salah.
Namun, ada titik ketika dorongan untuk bekerja tidak lagi sekadar ambisi. Seseorang dapat merasa harus terus bekerja, sulit beristirahat, memikirkan pekerjaan hampir sepanjang waktu, bahkan mengorbankan kesehatan dan hubungan pribadi. Pola seperti inilah yang sering dikaitkan dengan workaholism.Apa Itu Workaholism?
Workaholism adalah kecenderungan untuk bekerja secara berlebihan yang disertai dorongan internal yang kuat dan sulit dikendalikan. Seseorang dengan kecenderungan ini bukan hanya menghabiskan banyak waktu untuk bekerja, tetapi juga dapat mengalami kesulitan melepaskan pikirannya dari pekerjaan. Karena itu, workaholism berbeda dengan sekadar rajin bekerja.Seorang pekerja keras mungkin memilih bekerja lebih lama karena sedang mengejar proyek tertentu, tetapi tetap mampu berhenti ketika pekerjaan selesai. Sebaliknya, pada workaholism, seseorang dapat merasa terdorong untuk terus bekerja bahkan ketika sebenarnya tidak ada tuntutan yang mengharuskannya.
Penting pula dipahami bahwa istilah workaholism bukan berarti seseorang otomatis memiliki gangguan mental tertentu. Penilaian psikologis tidak dapat dilakukan hanya berdasarkan jumlah jam kerja.
Ciri-Ciri Workaholism
Tidak semua orang yang sibuk dapat disebut workaholic. Namun, terdapat beberapa pola yang sering dikaitkan dengan workaholism, seperti:- Terus memikirkan pekerjaan ketika sedang beristirahat;
- Sulit mengambil cuti atau menikmati waktu luang;
- Merasa bersalah ketika tidak melakukan sesuatu yang produktif;
- Bekerja lebih lama daripada yang sebenarnya diperlukan;
- Menjadikan pekerjaan sebagai prioritas utama hampir setiap saat;
- Mengabaikan kebutuhan tidur dan pemulihan tubuh;
- Berkurangnya waktu bersama pasangan, keluarga, atau teman;
- Menggunakan pekerjaan sebagai cara untuk menghindari masalah atau perasaan tertentu;
- Tetap bekerja berlebihan meskipun sudah menimbulkan konsekuensi negatif.
Workaholic dan Pekerja Keras Tidak Sama
Perbedaan antara workaholic dan pekerja keras terkadang terlihat tipis. Pekerja keras biasanya memiliki tujuan yang jelas. Ia dapat bekerja intensif ketika diperlukan, tetapi masih mampu memberikan ruang untuk tidur, keluarga, rekreasi, dan kehidupan sosial.Pada workaholism, bekerja dapat berubah dari sebuah pilihan menjadi semacam dorongan kompulsif.
Seseorang mungkin sudah menyelesaikan tugasnya, tetapi masih merasa harus mencari pekerjaan lain. Ketika mencoba beristirahat, pikirannya justru dipenuhi pekerjaan atau muncul perasaan bersalah karena merasa tidak produktif.
Dengan kata lain, persoalannya bukan sekadar “Saya bekerja keras karena ingin sukses,” tetapi dapat berkembang menjadi “Saya merasa tidak nyaman ketika saya tidak bekerja.”
Apakah Mengejar Uang dan Karir Termasuk Workaholism?
Belum tentu.Keinginan memiliki karir yang baik, penghasilan tinggi, bisnis besar, atau kebebasan finansial merupakan tujuan yang umum. Motivasi tersebut tidak otomatis menunjukkan workaholism.
Dalam psikologi, motivasi yang berorientasi pada imbalan eksternal seperti uang, jabatan, penghargaan, dan status sosial dapat berkaitan dengan konsep extrinsic motivation.
Sementara itu, ketika seseorang memberikan nilai yang sangat tinggi terhadap uang dan kepemilikan sebagai ukuran keberhasilan, konsep materialism juga dapat menjadi relevan.
Ada pula status seeking, yaitu kecenderungan mengejar prestise, posisi, atau pengakuan sosial. Karena itu, seseorang yang sangat mengejar uang belum tentu workaholic. Demikian pula seorang workaholic belum tentu bekerja semata-mata demi uang.
Mengapa Seseorang Bisa Menjadi Workaholic?
Workaholism dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor dan tidak selalu memiliki satu penyebab. Pada sebagian orang, pekerjaan menjadi sumber utama harga diri. Prestasi memberikan rasa bahwa dirinya berharga, kompeten, atau berhasil.Lingkungan juga dapat berperan. Budaya kerja yang menganggap lembur sebagai simbol loyalitas atau mengukur keberhasilan seseorang hanya berdasarkan produktivitas dapat mendorong pola kerja yang tidak sehat.
Faktor lain dapat berupa perfeksionisme, kebutuhan mendapatkan pengakuan, ketakutan terhadap kegagalan, tekanan ekonomi, persaingan karir, maupun kebiasaan yang terbentuk selama bertahun-tahun.
Karena penyebab setiap orang berbeda, tidak tepat menyimpulkan kondisi psikologis seseorang hanya berdasarkan satu perilaku.
Dampak Workaholism terhadap Kehidupan
Bekerja berlebihan dalam jangka panjang dapat memberikan konsekuensi pada berbagai aspek kehidupan.Waktu pemulihan yang tidak memadai dapat berhubungan dengan kelelahan dan kualitas tidur yang buruk. Secara psikologis, seseorang juga dapat mengalami stres berkepanjangan serta kesulitan memisahkan kehidupan pribadi dari pekerjaan.
Hubungan interpersonal pun dapat terdampak ketika pekerjaan terus mengambil sebagian besar perhatian dan waktu.
Ironisnya, bekerja lebih lama juga tidak selalu berarti menghasilkan pekerjaan yang lebih baik. Ketika tubuh dan pikiran terus dipaksa tanpa pemulihan yang cukup, konsentrasi dan kemampuan mengambil keputusan dapat ikut terganggu.
Workaholism dan Burnout: Apa Bedanya?
Workaholism dan burnout bukanlah hal yang sama.Workaholism menggambarkan pola atau dorongan bekerja secara berlebihan dan sulit dikendalikan. Sementara burnout berkaitan dengan kondisi kelelahan yang muncul dalam konteks stres kerja kronis yang tidak berhasil dikelola. Keduanya dapat berhubungan, tetapi tidak identik.
Seseorang dapat menunjukkan kecenderungan workaholism tanpa sedang mengalami burnout. Sebaliknya, burnout juga dapat terjadi pada seseorang yang bukan workaholic, misalnya akibat beban pekerjaan yang terlalu berat atau lingkungan kerja yang bermasalah.
Kapan Ambisi Mulai Menjadi Masalah?
Ambisi pada dasarnya dapat menjadi kekuatan positif. Target yang tinggi dapat mendorong seseorang belajar, berkembang, dan mencapai kehidupan yang diinginkan.Masalah mulai muncul ketika pekerjaan secara konsisten mengambil alih hampir seluruh aspek kehidupan.
Beberapa pertanyaan sederhana dapat digunakan untuk melakukan refleksi:
- Apakah saya masih bisa berhenti bekerja tanpa merasa bersalah?
- Apakah saya dapat menikmati waktu bersama keluarga tanpa terus memeriksa pekerjaan?
- Apakah tidur dan kesehatan saya mulai dikorbankan?
- Apakah harga diri saya hampir sepenuhnya bergantung pada prestasi dan produktivitas?
- Apakah saya tetap bekerja berlebihan meskipun mengetahui bahwa kebiasaan tersebut sudah merugikan kehidupan saya?
Semakin banyak jawaban “ya”, semakin masuk akal untuk mengevaluasi kembali hubungan antara pekerjaan, ambisi, dan kehidupan pribadi.
Cara Membangun Hubungan yang Lebih Sehat dengan Pekerjaan
Mengurangi kecenderungan workaholism bukan berarti kehilangan ambisi. Tujuannya adalah membuat pekerjaan kembali menjadi bagian dari kehidupan, bukan seluruh kehidupan.Batas waktu kerja dapat dibuat lebih jelas, termasuk menentukan kapan komunikasi pekerjaan harus dihentikan. Waktu istirahat juga sebaiknya dipandang sebagai bagian dari pemulihan, bukan sebagai tanda kemalasan.
Selain itu, penting untuk membangun sumber kepuasan lain di luar pekerjaan, seperti keluarga, pertemanan, aktivitas fisik, hobi, atau kegiatan yang memberikan makna pribadi.
Jika dorongan bekerja terasa sangat sulit dikendalikan atau sudah mengganggu kesehatan, hubungan, tidur, dan fungsi kehidupan sehari-hari, konsultasi dengan psikolog atau profesional kesehatan mental dapat membantu memahami faktor yang mendasarinya.
Kesimpulan
Workaholism bukan sekadar bekerja keras. Istilah ini menggambarkan pola bekerja berlebihan yang disertai dorongan kuat untuk terus bekerja dan kesulitan melepaskan diri dari pekerjaan.Mengejar karir, uang, dan kesuksesan tidak otomatis berarti seseorang mengalami workaholism. Ambisi dapat menjadi sesuatu yang sehat selama seseorang masih memiliki kontrol terhadap pekerjaannya dan mampu menjaga kehidupan di luar pekerjaan.
Pada akhirnya, pertanyaan penting bukan hanya “Seberapa keras saya bekerja?”, tetapi juga: “Apakah saya mengendalikan pekerjaan saya, atau pekerjaan yang mulai mengendalikan hidup saya?” Tulis di kolom komentar!
Newsartstory.com Apps
Membaca berita lebih cepat,
mudah, dan interaktif
dengan aplikasi Newsartstory.com.

0 Komentar