Kenapa Ada LMKN dan WAMI? Begini Penjelasannya

LMKN dan Wami
Foto: Mengenal dua lembaga musik di indonesia

Newsartstory.com -  Industri musik Indonesia terus berkembang pesat seiring dengan kemajuan teknologi dan meningkatnya konsumsi musik digital. Namun, di balik kemajuan ini, perlindungan hak cipta bagi pencipta, penyanyi, dan pemilik hak terkait menjadi isu yang sangat penting. Untuk itu, hadir Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN) dan Wahana Musik Indonesia (WAMI) yang berperan besar dalam memastikan para pelaku industri musik mendapatkan hak ekonominya secara adil.


Apa itu LMKN?


LMKN (Lembaga Manajemen Kolektif Nasional) adalah lembaga resmi yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta. LMKN berada di bawah pengawasan Kementerian Hukum dan HAM RI dan bertugas:


Mengelola penghimpunan royalti musik dan lagu secara nasional.

Membagikan royalti kepada para pencipta, penyanyi, produser rekaman, serta pemilik hak terkait lainnya.

Menjadi wadah koordinasi berbagai Lembaga Manajemen Kolektif (LMK) yang ada di Indonesia.


LMKN dapat diibaratkan sebagai “payung besar” yang mengatur sistem distribusi royalti agar lebih transparan, adil, dan sesuai aturan hukum.


Apa itu WAMI?


WAMI (Wahana Musik Indonesia) adalah salah satu Lembaga Manajemen Kolektif (LMK) yang berfokus pada pengelolaan hak cipta musik. Didirikan sejak tahun 2006, WAMI berfungsi sebagai perantara antara pencipta/pemegang hak cipta musik dengan pengguna musik (misalnya stasiun TV, radio, restoran, kafe, hotel, hingga platform digital).


Fungsi utama WAMI adalah:


Menghimpun royalti atas penggunaan karya musik dari berbagai pihak yang memanfaatkan musik untuk kepentingan komersial.

Mendistribusikan royalti tersebut kepada para pencipta lagu dan pemegang hak cipta.

Melindungi karya musik agar tidak digunakan tanpa izin atau tanpa kompensasi yang layak.


WAMI berafiliasi dengan organisasi hak cipta internasional, sehingga membantu musisi Indonesia memperoleh royalti dari luar negeri dan sebaliknya.


Hubungan LMKN dan WAMI


LMKN berperan sebagai regulator dan koordinator di tingkat nasional.

WAMI berperan sebagai pelaksana, yaitu menghimpun dan menyalurkan royalti bagi pencipta musik.


Artinya, WAMI bekerja di lapangan untuk mengelola hak cipta musik, sementara LMKN memastikan bahwa mekanisme pengelolaan tersebut berjalan sesuai aturan hukum dan terintegrasi dengan sistem nasional.


Apa pentingnya LMKN dan WAMI bagi Musisi Indonesia?


Dengan adanya LMKN dan WAMI, musisi dan pencipta lagu di Indonesia mendapatkan:


Perlindungan hukum atas karya cipta musik mereka.

Kepastian royalti setiap kali musik digunakan secara komersial.

Transparansi distribusi royalti sehingga karya yang diputar lebih sering akan menghasilkan imbalan yang lebih besar.


Kenapa harus ada dua lembaga?


Alasan kenapa ada dua lembaga berbeda yaitu LMKN dan WAMI adalah karena mereka punya fungsi yang tidak sama, meskipun sama-sama bergerak di bidang perlindungan hak cipta musik.


1. LMKN (Lembaga Manajemen Kolektif Nasional)


Dibentuk oleh pemerintah (UU Hak Cipta 28/2014).

Berfungsi sebagai pengawas, pengatur, dan koordinator seluruh Lembaga Manajemen Kolektif (LMK) di Indonesia.

Tugas utamanya: mengatur sistem penghimpunan & pembagian royalti supaya adil, transparan, dan terintegrasi.

Bisa dibilang, LMKN adalah “payung nasional” atau regulator.


2. WAMI (Wahana Musik Indonesia)


Bukan lembaga pemerintah, melainkan salah satu dari banyak LMK (Lembaga Manajemen Kolektif) yang terdaftar di bawah LMKN.

Tugasnya lebih ke lapangan: menghimpun royalti dari pengguna musik (radio, TV, cafe, hotel, platform digital, dll.), lalu menyalurkannya ke pencipta lagu/pemegang hak cipta.

Jadi WAMI adalah pelaksana yang langsung berhubungan dengan musisi maupun pengguna musik.


Analogi sederhananya:


LMKN = Bank Indonesia (pengatur sistem perbankan nasional).

WAMI = Bank swasta/BUMN (pelaksana yang langsung berhubungan dengan nasabah).


Jadi, kenapa ada dua? Karena:


LMKN dibentuk pemerintah agar ada lembaga nasional yang mengawasi dan memastikan sistem royalti berjalan adil.

LMK seperti WAMI dibentuk oleh komunitas atau organisasi tertentu untuk mewakili kepentingan pencipta/pemegang hak cipta musik.


Kesimpulan


LMKN dan WAMI hadir sebagai garda depan perlindungan hak cipta musik di Indonesia. Dengan sistem yang semakin transparan, para pencipta dan pelaku musik bisa lebih sejahtera, sementara pengguna musik tetap dapat mengakses karya dengan cara yang legal. Sinergi antara LMKN, WAMI, dan masyarakat menjadi kunci agar ekosistem musik Indonesia semakin maju dan berkelanjutan.

0 Komentar

avatar fire and ash